Anak-anak dari orang2 yang kurang berhasil, yang akan tetap miskin di kehidupan selanjutnya, merupakan permasalahan sosial yang cukup besar. Para ahli sosiologi telah mempelajari dan mendeskripsikannya. Para ahli sosiologi telah mencoba untuk memberantas problem sosial tsb dengan "Ditactorship dan perencanaan sentral (central plannig). Liberal telah mengajukan Demokrasi dan kesempatan. Tetapi tidak ada orang yang benar2 mengerti apa yang menyebabkan problem sosial tsb. Mungkin, sampai sekarang.

Gebrakan yang krusial telah dibuat 3 tahun yang lalu, saat Martha Farah dari Univ Pennsylvania menunjukkan bahwa working memory dari anak2 yang dibesarkan di lingkungan miskin, mempunyai kapasitas yang lebih kecil dibandingkan anak2 middle-class. Memory yang bekerja (working memory) adalah kemampuan untuk menampung bit dari informasi dalam otak, contohnya setiap digit dari nomor telepon. Hal tersebut sangat krusial untuk pemahaman bahasa, untuk membaca dan untuk memecahkan masalah. Peng-entri-an ke dalam working memory juga salah satu syarat untuk sesuatu untuk dipelajari secara permanen sebagai bagian dari declarative memory - seseorang yang mengetahui sesuatu secara eksplisit, seperti tanggal dari pertempuran sejarah yang hebat, dibandingkan apa yang dia ketahui secara implisit, seperti bagaimana mengendarai sepeda.

Sejak penemuan Dr. Sarah, Gary Evans dan Michelle Schamberg dari Univ Cornel telah mempelajari fenomena tersebut lebih detail. Seperti yang mereka laporkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, mereka telah menemukan bahwa pengurangan kapasitas dari memory anak yang miskin adalah sangat pasti akibat dari stress yang memperngaruhi perkembangan otak si anak.

Para sukarelawan Dr. Evans dan Dr. Schamberg adalah 195 peserta dalam sebuah penelitian sosiologi dan medis yang dibawakan oleh Dr. Evan dalam New york State. Para peserta berusia 17 tahun. Semua berkulit putih, dan jumlah wanita dan pria seimbang.

Stress in the city

Untuk mengukur tingkat stress secara individu yang dialami selama hidupnya, kedua peneliti tersebut menggunakan sebuah index yang dikenal sebagai Allostatic Load. Ini adalah kombinasi dari nilai 6 variabel :Diastolic dan systolic tekanan darah; konsentrasi dari hormon yang berhubungan dengan stress; dan index massa tubuh, pengukuran obesitas. Pada ke enam variabel tsb, sebuah nilai yang tinggi menunjukkan sebuah kehidupan stress yang lebih tinggi, dan untuk semua 6 variabel, nilai nya lebih tinggi (secara rata2) pada anak2 yang miskin dibandingkan anak2 middle-class. Selanjutnya, karena penelitian Dr. Evans dikuti oleh peserta sejak lahir, kedua peneliti tsb bisa mengestimasi proporsi dari setiap kehidupan anak yang dihabiskan di lingkungan yang miskin.
Kapasitas dari working memory anak berusia 17 tahun berkorelasi dengan allostatic Load. Kepada siapa saja yang menghabiskan hidup mereka di lingkungan yang miskin bisa mengingat rata2 8.5 barang/ingatan di memori mereka setiap waktu. Dan kepada siapa saja yang berada di middle class dapat menangani 9.4 dan kepada siapa saja yang mempunyai pengalaman ekonomi dan sosial yang acak/tercampur, berada di tengah2.

Kedua korelasi ini tidak membuktikan bahwa stress yang kronis merusak otak, tetapi Dr. Evans dan Dr. Schamberg mengaplikasikan sebuah teknik statistic yang disebut hierarchical regression ke hasil penelitian. Mereka menggunakan teknik ini untuk menghilangkan efek dari allostatci load dalam hubungan nya antara kemiskinan dan memori yang ditemukan oleh Dr. Farah. Saat mereka melakukannya, hubungan tersebut menghilang. Dengan kata lain, penyusutan memori pada orang yang miskin pada penelitian mereka telah disebabkan oleh stress, daripada aspek2 umum lainnya dari kemiskinan.

Untuk mengkonfirmasi hasil tersebut, para peneliti juga mencari bukti pada karateristik dari setiap peserta, seperti berat badan sewaktu lahir, usia ibu saat melahirkan, tingkat pendidikan ibu, dan status marital, yang semuanya cukup berbeda (secara rata2) antara yang miskin dengan yang middle-class. Tidak ada satu pun dari karateristik tsb mempunyai pengaruh, maupun tingkat stress si ibu.

Stress tersebut, dan stress yang dipunyai sendiri, adalah yang bertanggung jawab dalam perusakan [i]working memory[i] dari anak2 yang miskin yang kemudian berubah menjadi hipotesis yang kuat. Hal tersebut juga di back up oleh pekerjaan kedua orang tersebut dan penelitian hewan, yang menunjukkan bahwa stress merubah aktivitas dari neurotransmitters, cairan kimia uuang membawa signal dari satu sel saraf ke lainnya di otak. Stress juga menahan generasi dari sel saraf baru di otak, dan menyebabkan perubahan model. Yang paling signifikan dari semua itu, hal tsb menyusutkan volume dari prefrontal cortex dan hippocampus. Ini adalah bagian dari otak yang paling dekat hubungannya dengan working memory.

Anak2 dengan kehidupan yang stress, kemudian, menemukan kesulitan untuk belejar. Secara kasarnya, mereka lebih "bodoh". Hal tersebut tidak mengejutkan bahwa mereka tidak belajar dengan baik di sekolah, berakhir miskin ketika dewasa dan anak mereka sering menemukan keadaan yang serupa seperti orang tua nya.

Penelitian Dr. Evans dan Dr. Schamberg tidak mempelajari penyebab dari stress yang dialami anak2 miskin, tetapi hal tersebut menunjukkan bahwa orang dewasa yang miskin memiliki kehidupan yang stress, dan untuk alasan yang jelas, kemiskinan membawa ketidakpastian mengenai masa depan. Alasan utama orang miskin stress adalah merka berada di tingkat paling bawah dalam tingkatan sosial dan ekonomi.

Sir Michael Marmot, dari Univ. College London, telah menunjukkan berulang kali bahwa orang-orang yang berada di tingkat bawah dari hirarki sosial, mengalami stress yang lebih pada kehidupan sehari2 mereka daripada mereka yang berada di tingkatan teratas, yang kemudian memperngaruhi kesehatan mereka, bahkan untuk anak sangat sensitif dalam bersosialisasi.

Jadi, tidak diperlukan untuk mencari tahu lebih jauh dari tempat mereka sekarang untuk menjelaskan apa yang Dr Evans dan Dr Schamberg temukan pada penelitian mereka mengenai anak2 yang miskin.

Komentar-komentar (0)

Subscribe to this comment's feed

Tulis Komentar

smaller | bigger

busy

Menu Lainnya

":Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang "Aku" maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila berdo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran ( Al Baqarah: 186)"

Hikmah Jum'at

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini42
mod_vvisit_counterKemarin231
mod_vvisit_counterMinggu ini273
mod_vvisit_counterMinggu lalu1630
mod_vvisit_counterBulan ini1254
mod_vvisit_counterBulan lalu7440
mod_vvisit_counterSemua hari198904

We have: 2 guests online
Your IP: 38.107.191.83
 , 
Today: Sep 06, 2010

Admin Online

Staf Online

Artikel Terkini

Psikologi Anak dan Perkembangan Anak
28/02/2010

Penelitian tentang anak pada mulanya dipusatkan pada bidang spesifik perilaku anak, misalnya bicara, emosi atau minat bermain, dan kegiatan. Nama yang diberikan untuk cabang penelitian psikologi yang  [ ... ]


Ibnu Khaldun - peletak dasar ilmu sosial dan politik Islam
28/02/2010

Nama lengkapnya adalah Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Khaldun. lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27  [ ... ]


Artikel Lainnya